MAKALAH
THORIQOH MUBASYAROH
Diajukan untuk memenuhi tugas terstruktur
Mata Kuliah : Asalib At-ttadris
Dosen Pengampu : Hasan Saefullah, M.Ag
Disusun Oleh : Kelompok 7
Asep Saefudin Zuhri
Cecep Setiawan
M. Agus Setiyono
Tarbiyah/PBA – B/Semester V
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI
CIREBON
KATA PENGANTAR
Asssalamualikum
WR.WB
Segala
puji bagi Allah SWT. Serta syukur kita senantiasa memanjatkan kepada Tuhan kita
Allah serta karunianya kepada semua makhlukya sehingga kita dapat
berimajinasi,berekspresi dan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu dalam
mencari ilmu dan mengimplementasikan dalam aktifitas keseharian kita.
Sholawat serta salam kita panjatkan
bersama kita mengucapkan kepada junjungan Nabi Besar kita Nabi Muhammad
SAW.Kepada para keluarga Beliau,serta kepada kita semua selaku umatnya hingga
akhir zaman.
Akhir kata kami ucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya,mohon maaf bila banyak kesalahan yang terdapat pada
makalah ini,baik dari segi penulisan maupun dari segi materinya.Dan tidak
lupa kami selalu mengharapkan kritik dan
saran agar senantiasa kami selalu melakukan pembaharuan kerah yang lebih baik
lagi.
Wassalamualikum
WR.WB
Cirebon,
18 Oktober 2012
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR
ISI
BAB
I PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG ................................................................................................... iii
B.
RUMUSAN
MASALAH................................................................................................... iii
C.
TUJUAN
PEMBAHASAN ................................................................................................... iii
BAB II METODE LANGSUNG (THORIQOH MUBASYAROH)
A.
Latar Belakang Munculnya Metode Langsung ( Mubasyaroh)...................... 2
B.
Pengertian Metode Langsung (Mubasyaroh)................................................ 3
C.
Pembagian Metode Langsung (Mubasyaroh)............................................... 4
D.
Kekurangan dan Kelebihan Metode Langsung
(Mubasyaroh)....................... 6
E.
Aplikasi Metode Langsung (Mubasyaroh).................................................... 7
BAB III PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bahasa Arab (asing)
berbeda dengan belajar bahasa ibu, oleh karena itu prinsip dasar pengajarannya
harus berbeda, baik menyangkut metode (model pengajaran). Setiap anak manusia pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk menguasai
setiap bahasa, walaupun dalam kadar dan dorongan yang berbeda. Adapun diantara
perbedaan-perbedaan tersebut adalah tujuan-tujuan pengajaran yang ingin
dicapai, kemampuan dasar yang dimiliki, motivasi yang ada di dalam diri dan
minat serta ketekunannya.
Maka berangkat dari
sinilah kami mencoba untuk mengupas secara singkat tentang metode mubasyaroh (
langsung ) dalam makalah ini. Karena kami merasa bahwa penting sekali dalam
penggunaan sebuah metode untuk diterapkan dalam pembelajaran yang berkaitan
dengan bahasa.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana Latar Belakang Munculnya Metode
Langsung?
2.
Apa Pengertian Metode Langsung?
3.
Apa Kekurangan dan Kelebihan Metode Langsung?
C.
Tujuan
1.
Mencoba memahami dan mengungkapkan tentang
metode langsung
2.
Menggali wawasan tentang metode langsung
METODE LANGSUNG
(THORIQOH MUBASYAROH)
A.
Latar Belakang
Munculnya Metode Langsung (Mubasyaroh)
Metode langsung dikembangkan oleh carles
berlitz, seorang ahli dalam pengajaran bahasa, di Jerman menjelang abad ke-19.
Faktor kemunculannya dilatar belakangi oleh penolakan atau ketidak puasan
terhadap metode tata bahasa dan tarjamah. Pada saat itu memang metode tata
bahasa dan terjemah merupakan metode pengajaran bahasa kedua dan asing yang
populer. Akan tetapi ditengah kepopulerannya muncul banyak ketidak puasan di banyak
kalangan, sehingga munculah kritik bahkan penolakan terhadap metode ini. Secara
lebih rinci faktor-faktor itu adalah :
a.
Pada saat penduduk Eropa semakin bertambah, tingkat komunikasi
mereka semakin kompleks. Hal ini mengakibatkan kebutuhan mereka untuk menguasai
satu bahasa ( misal, bahasa Inggris) sebagai Lingua Franca secara aktif
dan produktif semakin mendesak. Buku-buku sumber yang ditemukan pada waktu itu
kurang memuaskan mereka, karena pada umumnya tidak mengajarkan penggunaan bahasa
tujuan secara praktis dan efektif, melainkan berbicara tentang bahasa tujuan.
b.
Dibeberapa negara Eropa pada waktu itu,
pendekatan-pendekatan baru pada pengajaran bahasa tujuan yang dicetuskan oleh
para ahli pengajaran bahasa secara terpisah-pisah memberikan ide kepada guru
bahasa tujuan untuk mengangkat metode lain yang dipandang lebih baik untuk
mengajarkan bahasa tujuan. Hal ini membuka jalan mereka untuk memunculkan
metode langsung.
Meskipun metode langsung merupakan reaksi kuat
terhadap metode tata bahasa dan terjemah, namun orang-orang telah lebih dulu
menggunakannya dalam mengajarkan bahasa asing. Nababan, menyebutkan bahwa
penggunaannya telah berlangsung sekitar abad ke-15 ketika para pemuda Romawi
diberi pelajaran bahasa Yunani oleh guru-guru bahasa dari Yunani. Namun
penggunaan metode langsung pada waktu itu tidak benar-benar sebagai metode
langsung.
Kelangsungannya dapat dikatakan tidak murni
seratus persen. Sebab dalam beberapa hal masih menggunakan bahasa ibu dan
kedua. Baru mulai tahun 1920-an beberapa ahli pengajaran yang secara terpisah
menggunakan metode langsung secara murni dan sistematis.[1]
B.
Pengertian
Metode Langsung (Mubasyaroh)
Metode Langsung (Mubasyaroh) merupakan metode
yang memprioritaskan pada keterampilan berbicara. Metode ini muncul sebagai
reaksi ketidakpuasan terhadap hasil pengajaran bahasa dari metode sebelumnya
(gramatika tarjamah), yang dipandang memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang
mati. Seruan-seruan yang menuntut adanya perubahan-perubahan mendasar dalam
cara pembelajaran bahasa itu mendapatkan momentumnya pada awal abad ke-20 di
Eropa dan Amerika, serta digunakan baik di Negara Arab maupun di negara-negara
Islam Asia termasuk Indonesia pada waktu yang bersamaan.
Sebagai suatu reaksiproaktif terhadap
metode gramatika tarjamah, maka karakteristik dari metode ini adalah:
a)
Memberi prioritas yang tinggi pada ketrampilan
berbicara sebagai ganti ketrampilan membaca, menulis dan menerjemah,
b)
Basis pembelajarannya terfokus pada teknik
demontrastif; menirukan dan menghafal langsung dimana murid-murid mengulang
kata, kalimat, dan percakapan melalui asosiasi, konteks dan definisi yang
diajarkan secara induktif yaitu berangkat dari contoh-contoh kemudian diambil
kesimpulan,
c)
Menghindari penggunaan bahasa ibu pelajar,
d)
Kemampuan komunikasi lisan dilatih secara cepat
melalui Tanya jawab yang terencana dalam pola interaktif yang bervariasi,
e)
Interaksi antara guru dan murid terjalin secara
aktif,
Jadi, pada dasarnya metode ini berangkat dari
satu asumsi dasar, bahwa pembelajaran bahasa asing tidaklah jauh berbeda dengan
belajar bahasa ibu, yaitu dengan penggunaan bahasa secara langsung dan intensif
dalam komunikasi keseharian, dimana tahapannya bermula dari mendengarkan
kata-kata, menirukan secara lisan, sedangkan mengarang dan membaca dikembangkan
kemudian.
Metode ini berorientasi pada pembentukan keterampilan
pelajar agar mampu berbicara secara spontanitas dengan tata bahasa yang
fungsional dan berfungsi untuk mengontrol kebenaran ujarannya hingga mirip
penutur aslinya.[2]
C.
Pembagian
Metode Langsung (Mubasyaroh)
Ada tiga metode yang sangat lekat dengan metode
langsung (Mubasyaroh), bahkan merupakan bagian yang berkesinambungan dalam
metode tersebut. Meski pada prinsipnya ketiga metode tersebut tidak ada
perbedaan. Namun ketiganya memiliki titik tekan yang dalam penggunaan bahasa
asing yang dipelajari secara langsung dalam proses belajar mengajar, maka
penggunaan bahasa ibu atau kedua sedapat mungkin dihindari. Menurut Al-Naqhoh
ketiga metode itu adalah:
1.
Metode Psikologi
(al-thoriqoh al-sikulujiyyah)
Disebut metode psikologi, karena proses
pembelajarannya didasarkan atas pengamatan perkembangan mental dan asosiasi
pikiran. Beberapa ciri yang melekat pada metode ini antara lain:
a)
Penggunaan benda, diagram, gambar dan chart
untuk menciptakan gambaran mental dan menghubungkannya dengan kata-kata yang
diucapkannya.
b)
Kosa kata dikelompokkan kedalam ungkapan-ungkapan
pendek yang berhubungan dengan satu masalah yang masih satu pelajaran. Beberapa
pelajaran dikumpulkan dalam satu bab sedangkan kumpulan beberapa bab membentuk satu
seri.
c)
Pelajaran mula-mula diberikan secara lisan,
kemudian diberikan bagian demi bagian berdasarkan materi dalam buku.
d)
Jika sangat diperlukan, bahasa pelajar dapat
digunakan.
e)
Pelajaran mengarang baru diperkenalkan setelah
diberikan beberapa pelajaran terlebih dahulu.[3]
2.
Metode fonetik
(al-thoriqoh al-shautiyyah)
Metode ini dikenal juga dengan metode ucapan
(al-thoriqoh al-nuthqiyyah). Disebut metode fonetik karena materi pelajaran
ditulis berdasarkan fonetik, bukan ejaan seperti yang lazim digunakan. Dalam
prakteknya metode ini mengawali proses pembelajaran dengan latihan pendengaran
terhadap bunyi. Setelah itu dilanjutkan dengan latihan pengucapan kata, kalimat
pendek, dan akhirnya kalimat yang lebih panjang. Selanjutnya kalimat-kalimat
itu dirangkaikan menjadi sebuah percakapan atau cerita. Gramatika diajarkan secara
induktif, sedangkan mengarang terdiri atas penampilan kembali tentang apa yang
didengar dan dibaca.
3.
Metode alamiah
(al-thoriqoh al-thobi’iyyah)
Metode ini merupakan kelanjutan dari metode
fonetik. Disebut metode alamiah karena belajar bahasa asig disamakan seperti
bahasa ibu. Belajar bahasa ibu biasanya didasarkan pada prilaku atau kebiasaan
sehari-hari yang berlangsung secara alamiah. Karena itu terkadang metode
alamiah disebut sebagai metode kebiasaan (al-thoriqoh al-‘adiyyah). Di dalam
belajar bahasa ibu seorang anak mulai menyerap bahasa dengan menyimak dan
meniru bahasa yang digunakan oleh orang dewasa, lalu ia mengucapkan apa yang
telah disemak secara berulang-ulang. Di dalam prakteknya ada beberapa hal yang
membedakannya dengan metode lain, diantaranya:
a)
Mendasarkan teori pada kebiasaan anak-anak
dalam mempelajari bahasa ibunya.
b)
Langkah pertama pengajaran adalah bunyi (tanpa
buku) dilanjutkan kemudian oleh pengenalan kata dan kalimat secara lisan yang
dulengkapi oleh pengenalan benda dan gambar.
c)
Kata dan istilah baru, diajarkan melalui
kata-kata yang telah dikenal sebelumnya.
d)
Gramatika digunakan untuk membetulkan
kesalahan-kesalahan.
e)
Penggunaan kamus untuk membantu mengingat
kata-kata yang sudah dilupakan.[4]
D.
Kekurangan dan
Kelebihan Metode Langsung (Mubasyaroh)
Setiap metode tentunya memiliki kelemahan dan
kelebihan masing-masing. Begitu juga dengan metode mubasyaroh yang lahir dari
ketidakpuasannya terhadap metode sebelumnya, juga tidak terlepas dari
kekurangan dan kelebihannya.
Diantara aspek kelebihannya sebagai berikut:
a)
Dengan kedisiplinan mendengarkan dan
menggunakan pola-pola dialog secara teratur, maka para pelajar bisa terampil
dalam menyimak dan berbicara.
b)
Dengan banyaknya peragaan atau demonstrasi,
gerakan, penggunaan gambar, bahkan belajar di alam nyata para pelajar bisa
mengetahui banyak kosa kata.
c)
Dengan banyak latihan pengucapan secara ketat
dalam bimbingan guru, maka para pelajar bisa memiliki lafal yang relative
mendekati penutur asli.
d)
Para pelajar mendapat banyak latihan dalam bercakap-cakap
khususnya mengenai topik-topik yang sudah dilatih dalam kelas, dapat membantu
mereka dalam menganalogikan pola-pola percakapan dalam topik-topik lain.
Sedangkan
dari aspek kekurangan metode ini sebagai berikut:
a)
Metode ini memiliki prinsip-prinsip yang munkin
dapat diterima oleh sekolah-sekolah yang jumlah pelajarnya tidak banyak.
b)
Metode ini menuntut para guru yang mempunyai
kelancaran berbicara seperti penutur asli.
c)
Metode ini mengandalkan kemahiran guru dalam
menyajikan materi, bukan buku-buku teks yang baik.
d)
Metode ini menghindari penggunaan bahasa ibu
dan bahasa kedua atau terjemahan. Hal ini justru bisa menghambat kemajaun
pelajar, sebab banyak waktu dan tenaga terbuang dalam menerangkan kata yang
abstrak ( tidak bisa digambarkan) atau konsep tertentu dalam bahasa asing.[5]
E.
Aplikasi Metode
Langsung (Mubasyaroh)
Adapun langkah-langkah pembelajaran dengan
Metode Mubasyaroh, Sebagai gambaran dalam mata pelajaran Bahasa Arab dapat
dijabarkan sebagai berikut :
1.
Guru memulai penyajian
materi secara lisan, mengucapkan satu kata dengan menunjuk bendanya atau gambar benda itu, memeragakan sebuah benda itu, memeragakan
sebuah gerakan atau mimik wajah. Pelajar menirukan berkali-kali sampai benar
pelafalannya dan faham maknanya.
2.
Latihan berikutnya berupa Tanya
jawab dangan kata Tanya “ma, hal, ayna” dan sebagainya, sesuai dengan tingkat
kesulitan pelajaran, berkaitan dengan kata-kata yang telah disajikan. Model interaksi
bervariasi, biasanya dimulai dengan klasikal dan akhirnya individual, baik
guru-siswa maupun antar siswa.
3.
Setelah guru yakin bahwa
siswa menguasai materi yang disajikan, baik dalam pelafalan maupun pemahaman makna, siswa
diminta membuka buku teks. Guru memberikan contoh bacaan yang benar kemudian
siswa diminta membaca secara bergantian.
4.
Kegiatan berikutnya adalah
menjawab secara lisan pertanyaan atau latihan yang ada dalam buku,
dilanjutkan dengan mengerjakannya secara tertulis
5.
Bacaan umum yang sesuai
dengan tingkatan siswa diberikan sebagai tambahan, misalnya berupa
cerita humor, cerita yang mengandung hikmah dan bacaan yang mengandung ungkapan
–ungkapan indah. Karena pendek dan menarik, biasanya siswa menghafalnya di luar
kepala.
6.
Tata bahasa diberikan pada tingkat tertentu
secara induktif.[6]
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Menjelang abad ke-19 di Jerman Metode langsung
ini dikembangkan oleh carles berlitz, seorang ahli dalam pengajaran bahasa.
Metode Langsung (Mubasyaroh) merupakan metode yang memprioritaskan pada keterampilan
berbicara. Dan muncul sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap hasil pengajaran
bahasa dari metode sebelumnya (gramatika tarjamah), yang dipandang
memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang mati. Metode Mubasyarah dibagi
menjadi tiga: metode psikologi (al-thoriqoh al-sikulujiyyah), metode fonetik
(al-thoriqoh al-shautiyyah), metode alamiah (al-thoriqoh al-thobi’iyyah).
Metode ini mempunyai kelebihan diantaranya yaitu dengan kedisiplinan
mendengarkan dan menggunakan pola-pola dialog secara teratur, maka para pelajar
bisa terampil dalam menyimak dan berbicara dan juga mempunyai kekurangan antara
lain, menuntut para guru yang mempunyai kelancaran berbicara seperti penutur
asli.
DAFTAR PUSTAKA
Acep Hermawan. Metodologi Pembelajaran Bahasa
Arab. 2011
Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.
Radliyah Zaenuddin. Metodologi &
Strategi Alternatif Pembelajaran
Bahasa
&t;">
. 2005.
Yogyakarta: Pustaka Rihlah Group.
Ahmad Fuaf Effendy. Metodologi Pengajaran
Bahasa Arab. 2004.
Malang:
Misykat.
http://cinta-ilmu-pujianto.blogspot.com. Diunduh
tanggal 10 Oktober 2012
[1]Acep Hermawan. Metodologi
Pembelajaran Bahasa Arab. 2011. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. hlm. 175-176.
[2] Radliyah
Zaenuddin. Metodologi & Strategi Alternatif Pembelajaran Bahasa
Arab. 2005. Yogyakarta: Pustaka Rihlah Group.cet. 1 hlm. 39-40
[4] Acep
Hermawan. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. 2011. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya. hlm. 179-180
[5] Acep
Hermawan. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. 2011. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya. hlm. 183
