Minggu, 09 Desember 2012


MAKALAH

THORIQOH MUBASYAROH

Diajukan untuk memenuhi tugas terstruktur
Mata Kuliah : Asalib At-ttadris
Dosen Pengampu : Hasan Saefullah, M.Ag


Disusun Oleh : Kelompok 7

Asep Saefudin Zuhri
Cecep Setiawan
M. Agus Setiyono


Tarbiyah/PBA – B/Semester V


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI
CIREBON





KATA PENGANTAR

Asssalamualikum WR.WB
Segala puji bagi Allah SWT. Serta syukur kita senantiasa memanjatkan kepada Tuhan kita Allah serta karunianya kepada semua makhlukya sehingga kita dapat berimajinasi,berekspresi dan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu dalam mencari ilmu dan mengimplementasikan dalam aktifitas keseharian kita.
            Sholawat serta salam kita panjatkan bersama kita mengucapkan kepada junjungan Nabi Besar kita Nabi Muhammad SAW.Kepada para keluarga Beliau,serta kepada kita semua selaku umatnya hingga akhir zaman.
            Akhir kata kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya,mohon maaf bila banyak kesalahan yang terdapat pada makalah ini,baik dari segi penulisan maupun dari segi materinya.Dan tidak lupa  kami selalu mengharapkan kritik dan saran agar senantiasa kami selalu melakukan pembaharuan kerah yang lebih baik lagi.

Wassalamualikum WR.WB 
Cirebon, 18 Oktober 2012


  Penyusun
          
   

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.     LATAR BELAKANG ................................................................................................... iii
B.     RUMUSAN MASALAH................................................................................................... iii
C.     TUJUAN PEMBAHASAN ................................................................................................... iii

BAB II  METODE LANGSUNG (THORIQOH MUBASYAROH)

A.     Latar Belakang Munculnya Metode Langsung ( Mubasyaroh)...................... 2
B.     Pengertian Metode Langsung (Mubasyaroh)................................................ 3
C.     Pembagian Metode Langsung (Mubasyaroh)............................................... 4
D.     Kekurangan dan Kelebihan Metode Langsung (Mubasyaroh)....................... 6
E.      Aplikasi Metode Langsung (Mubasyaroh).................................................... 7

BAB III PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA.








BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Bahasa Arab (asing) berbeda dengan belajar bahasa ibu, oleh karena itu prinsip dasar pengajarannya harus berbeda, baik menyangkut metode (model pengajaran). Setiap anak manusia pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk menguasai setiap bahasa, walaupun dalam kadar dan dorongan yang berbeda. Adapun diantara perbedaan-perbedaan tersebut adalah tujuan-tujuan pengajaran yang ingin dicapai, kemampuan dasar yang dimiliki, motivasi yang ada di dalam diri dan minat serta ketekunannya.
Maka berangkat dari sinilah kami mencoba untuk mengupas secara singkat tentang metode mubasyaroh ( langsung ) dalam makalah ini. Karena kami merasa bahwa penting sekali dalam penggunaan sebuah metode untuk diterapkan dalam pembelajaran yang berkaitan dengan bahasa.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Latar Belakang Munculnya Metode Langsung?
2.      Apa Pengertian Metode Langsung?
3.      Apa Kekurangan dan Kelebihan Metode Langsung?

C.     Tujuan
1.      Mencoba memahami dan mengungkapkan tentang metode langsung
2.      Menggali wawasan tentang metode langsung





 BAB II
METODE LANGSUNG
(THORIQOH MUBASYAROH)

A.     Latar Belakang Munculnya Metode Langsung (Mubasyaroh)
Metode langsung dikembangkan oleh carles berlitz, seorang ahli dalam pengajaran bahasa, di Jerman menjelang abad ke-19. Faktor kemunculannya dilatar belakangi oleh penolakan atau ketidak puasan terhadap metode tata bahasa dan tarjamah. Pada saat itu memang metode tata bahasa dan terjemah merupakan metode pengajaran bahasa kedua dan asing yang populer. Akan tetapi ditengah kepopulerannya muncul banyak ketidak puasan di banyak kalangan, sehingga munculah kritik bahkan penolakan terhadap metode ini. Secara lebih rinci faktor-faktor itu adalah :
a.       Pada saat penduduk  Eropa semakin bertambah, tingkat komunikasi mereka semakin kompleks. Hal ini mengakibatkan kebutuhan mereka untuk menguasai satu bahasa ( misal, bahasa Inggris) sebagai Lingua Franca secara aktif dan produktif semakin mendesak. Buku-buku sumber yang ditemukan pada waktu itu kurang memuaskan mereka, karena pada umumnya tidak mengajarkan penggunaan bahasa tujuan secara praktis dan efektif, melainkan berbicara tentang bahasa tujuan.
b.      Dibeberapa negara Eropa pada waktu itu, pendekatan-pendekatan baru pada pengajaran bahasa tujuan yang dicetuskan oleh para ahli pengajaran bahasa secara terpisah-pisah memberikan ide kepada guru bahasa tujuan untuk mengangkat metode lain yang dipandang lebih baik untuk mengajarkan bahasa tujuan. Hal ini membuka jalan mereka untuk memunculkan metode langsung.
Meskipun metode langsung merupakan reaksi kuat terhadap metode tata bahasa dan terjemah, namun orang-orang telah lebih dulu menggunakannya dalam mengajarkan bahasa asing. Nababan, menyebutkan bahwa penggunaannya telah berlangsung sekitar abad ke-15 ketika para pemuda Romawi diberi pelajaran bahasa Yunani oleh guru-guru bahasa dari Yunani. Namun penggunaan metode langsung pada waktu itu tidak benar-benar sebagai metode langsung.
Kelangsungannya dapat dikatakan tidak murni seratus persen. Sebab dalam beberapa hal masih menggunakan bahasa ibu dan kedua. Baru mulai tahun 1920-an beberapa ahli pengajaran yang secara terpisah menggunakan metode langsung secara murni dan sistematis.[1]
B.     Pengertian Metode Langsung (Mubasyaroh)
Metode Langsung (Mubasyaroh) merupakan metode yang memprioritaskan pada keterampilan berbicara. Metode ini muncul sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap hasil pengajaran bahasa dari metode sebelumnya (gramatika tarjamah), yang dipandang memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang mati. Seruan-seruan yang menuntut adanya perubahan-perubahan mendasar dalam cara pembelajaran bahasa itu mendapatkan momentumnya pada awal abad ke-20 di Eropa dan Amerika, serta digunakan baik di Negara Arab maupun di negara-negara Islam Asia termasuk Indonesia pada waktu yang bersamaan.
Sebagai suatu reaksiproaktif terhadap  metode gramatika tarjamah, maka karakteristik dari metode ini adalah:
a)         Memberi prioritas yang tinggi pada ketrampilan berbicara sebagai ganti ketrampilan membaca, menulis dan menerjemah,
b)        Basis pembelajarannya terfokus pada teknik demontrastif; menirukan dan menghafal langsung dimana murid-murid mengulang kata, kalimat, dan percakapan melalui asosiasi, konteks dan definisi yang diajarkan secara induktif yaitu berangkat dari contoh-contoh kemudian diambil kesimpulan,
c)         Menghindari penggunaan bahasa ibu pelajar,
d)        Kemampuan komunikasi lisan dilatih secara cepat melalui Tanya jawab yang terencana dalam pola interaktif yang bervariasi,
e)         Interaksi antara guru dan murid terjalin secara aktif,
Jadi, pada dasarnya metode ini berangkat dari satu asumsi dasar, bahwa pembelajaran bahasa asing tidaklah jauh berbeda dengan belajar bahasa ibu, yaitu dengan penggunaan bahasa secara langsung dan intensif dalam komunikasi keseharian, dimana tahapannya bermula dari mendengarkan kata-kata, menirukan secara lisan, sedangkan mengarang dan membaca dikembangkan kemudian.
Metode ini berorientasi pada pembentukan keterampilan pelajar agar mampu berbicara secara spontanitas dengan tata bahasa yang fungsional dan berfungsi untuk mengontrol kebenaran ujarannya hingga mirip penutur aslinya.[2]
C.     Pembagian Metode Langsung (Mubasyaroh)
Ada tiga metode yang sangat lekat dengan metode langsung (Mubasyaroh), bahkan merupakan bagian yang berkesinambungan dalam metode tersebut. Meski pada prinsipnya ketiga metode tersebut tidak ada perbedaan. Namun ketiganya memiliki titik tekan yang dalam penggunaan bahasa asing yang dipelajari secara langsung dalam proses belajar mengajar, maka penggunaan bahasa ibu atau kedua sedapat mungkin dihindari. Menurut Al-Naqhoh ketiga metode itu adalah:
1.       Metode Psikologi (al-thoriqoh al-sikulujiyyah)
Disebut metode psikologi, karena proses pembelajarannya didasarkan atas pengamatan perkembangan mental dan asosiasi pikiran.  Beberapa ciri yang melekat pada metode ini antara lain:
a)         Penggunaan benda, diagram, gambar dan chart untuk menciptakan gambaran mental dan menghubungkannya dengan kata-kata yang diucapkannya.
b)         Kosa kata dikelompokkan kedalam ungkapan-ungkapan pendek yang berhubungan dengan satu masalah yang masih satu pelajaran. Beberapa pelajaran dikumpulkan dalam satu bab sedangkan kumpulan beberapa bab membentuk satu seri.
c)         Pelajaran mula-mula diberikan secara lisan, kemudian diberikan bagian demi bagian berdasarkan materi dalam buku.
d)         Jika sangat diperlukan, bahasa pelajar dapat digunakan.
e)         Pelajaran mengarang baru diperkenalkan setelah diberikan beberapa pelajaran terlebih dahulu.[3]
2.     Metode fonetik (al-thoriqoh al-shautiyyah)
Metode ini dikenal juga dengan metode ucapan (al-thoriqoh al-nuthqiyyah). Disebut metode fonetik karena materi pelajaran ditulis berdasarkan fonetik, bukan ejaan seperti yang lazim digunakan. Dalam prakteknya metode ini mengawali proses pembelajaran dengan latihan pendengaran terhadap bunyi. Setelah itu dilanjutkan dengan latihan pengucapan kata, kalimat pendek, dan akhirnya kalimat yang lebih panjang. Selanjutnya kalimat-kalimat itu dirangkaikan menjadi sebuah percakapan atau cerita. Gramatika diajarkan secara induktif, sedangkan mengarang terdiri atas penampilan kembali tentang apa yang didengar dan dibaca.
3.     Metode alamiah (al-thoriqoh al-thobi’iyyah)
Metode ini merupakan kelanjutan dari metode fonetik. Disebut metode alamiah karena belajar bahasa asig disamakan seperti bahasa ibu. Belajar bahasa ibu biasanya didasarkan pada prilaku atau kebiasaan sehari-hari yang berlangsung secara alamiah. Karena itu terkadang metode alamiah disebut sebagai metode kebiasaan (al-thoriqoh al-‘adiyyah). Di dalam belajar bahasa ibu seorang anak mulai menyerap bahasa dengan menyimak dan meniru bahasa yang digunakan oleh orang dewasa, lalu ia mengucapkan apa yang telah disemak secara berulang-ulang. Di dalam prakteknya ada beberapa hal yang membedakannya dengan metode lain, diantaranya:
a)       Mendasarkan teori pada kebiasaan anak-anak dalam mempelajari bahasa ibunya.
b)       Langkah pertama pengajaran adalah bunyi (tanpa buku) dilanjutkan kemudian oleh pengenalan kata dan kalimat secara lisan yang dulengkapi oleh pengenalan benda dan gambar.
c)       Kata dan istilah baru, diajarkan melalui kata-kata yang telah dikenal sebelumnya.
d)       Gramatika digunakan untuk membetulkan kesalahan-kesalahan.
e)       Penggunaan kamus untuk membantu mengingat kata-kata yang sudah dilupakan.[4]
D.    Kekurangan dan Kelebihan Metode Langsung (Mubasyaroh)
Setiap metode tentunya memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Begitu juga dengan metode mubasyaroh yang lahir dari ketidakpuasannya terhadap metode sebelumnya, juga tidak terlepas dari kekurangan dan kelebihannya.
Diantara aspek kelebihannya sebagai berikut:
a)       Dengan kedisiplinan mendengarkan dan menggunakan pola-pola dialog secara teratur, maka para pelajar bisa terampil dalam menyimak dan berbicara.
b)      Dengan banyaknya peragaan atau demonstrasi, gerakan, penggunaan gambar, bahkan belajar di alam nyata para pelajar bisa mengetahui banyak kosa kata.
c)       Dengan banyak latihan pengucapan secara ketat dalam bimbingan guru, maka para pelajar bisa memiliki lafal yang relative mendekati penutur asli.
d)      Para pelajar mendapat banyak latihan dalam bercakap-cakap khususnya mengenai topik-topik yang sudah dilatih dalam kelas, dapat membantu mereka dalam menganalogikan pola-pola percakapan dalam topik-topik lain.
Sedangkan dari aspek kekurangan metode ini sebagai berikut:
a)        Metode ini memiliki prinsip-prinsip yang munkin dapat diterima oleh sekolah-sekolah yang jumlah pelajarnya tidak banyak.
b)       Metode ini menuntut para guru yang mempunyai kelancaran berbicara seperti penutur asli.
c)        Metode ini mengandalkan kemahiran guru dalam menyajikan materi, bukan buku-buku teks yang baik.
d)       Metode ini menghindari penggunaan bahasa ibu dan bahasa kedua atau terjemahan. Hal ini justru bisa menghambat kemajaun pelajar, sebab banyak waktu dan tenaga terbuang dalam menerangkan kata yang abstrak ( tidak bisa digambarkan) atau konsep tertentu dalam bahasa asing.[5]
E.     Aplikasi Metode Langsung (Mubasyaroh)
Adapun langkah-langkah pembelajaran dengan Metode Mubasyaroh, Sebagai gambaran dalam mata pelajaran Bahasa Arab dapat dijabarkan sebagai berikut :
1.       Guru memulai penyajian materi secara lisan, mengucapkan satu kata dengan menunjuk bendanya atau gambar benda itu, memeragakan sebuah benda itu, memeragakan sebuah gerakan atau mimik wajah. Pelajar menirukan berkali-kali sampai benar pelafalannya dan faham maknanya.
2.       Latihan berikutnya berupa Tanya jawab dangan kata Tanya “ma, hal, ayna” dan sebagainya, sesuai dengan tingkat kesulitan pelajaran, berkaitan dengan kata-kata yang telah disajikan. Model interaksi bervariasi, biasanya dimulai dengan klasikal dan akhirnya individual, baik guru-siswa maupun antar siswa.
3.       Setelah guru yakin bahwa siswa menguasai materi yang disajikan, baik dalam pelafalan maupun pemahaman makna, siswa diminta membuka buku teks. Guru memberikan contoh bacaan yang benar kemudian siswa diminta membaca secara bergantian.
4.       Kegiatan berikutnya adalah menjawab secara lisan pertanyaan atau latihan yang ada dalam buku, dilanjutkan dengan mengerjakannya secara tertulis
5.       Bacaan umum yang sesuai dengan tingkatan siswa diberikan sebagai tambahan, misalnya berupa cerita humor, cerita yang mengandung hikmah dan bacaan yang mengandung ungkapan –ungkapan indah. Karena pendek dan menarik, biasanya siswa menghafalnya di luar kepala.
6.       Tata bahasa diberikan pada tingkat tertentu secara induktif.[6]



















BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Menjelang abad ke-19 di Jerman Metode langsung ini dikembangkan oleh carles berlitz, seorang ahli dalam pengajaran bahasa. Metode Langsung (Mubasyaroh) merupakan metode yang memprioritaskan pada keterampilan berbicara. Dan muncul sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap hasil pengajaran bahasa dari metode sebelumnya (gramatika tarjamah), yang dipandang memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang mati. Metode Mubasyarah dibagi menjadi tiga: metode psikologi (al-thoriqoh al-sikulujiyyah), metode fonetik (al-thoriqoh al-shautiyyah), metode alamiah (al-thoriqoh al-thobi’iyyah). Metode ini mempunyai kelebihan diantaranya yaitu dengan kedisiplinan mendengarkan dan menggunakan pola-pola dialog secara teratur, maka para pelajar bisa terampil dalam menyimak dan berbicara dan juga mempunyai kekurangan antara lain, menuntut para guru yang mempunyai kelancaran berbicara seperti penutur asli.















DAFTAR PUSTAKA

Acep Hermawan. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. 2011
       Bandung: PT  Remaja Rosdakarya.
Radliyah Zaenuddin. Metodologi & Strategi Alternatif Pembelajaran
      Bahasa &t;"> . 2005. Yogyakarta: Pustaka Rihlah Group.
Ahmad Fuaf Effendy. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. 2004.
      Malang: Misykat.
http://cinta-ilmu-pujianto.blogspot.com. Diunduh tanggal 10 Oktober 2012

























[1]Acep Hermawan. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. 2011. Bandung: PT  Remaja Rosdakarya. hlm. 175-176.

[2] Radliyah Zaenuddin. Metodologi & Strategi Alternatif Pembelajaran  Bahasa  Arab. 2005. Yogyakarta: Pustaka Rihlah Group.cet. 1 hlm. 39-40

[3] http://cinta-ilmu-pujianto.blogspot.com. Diunduh tanggal 10 Oktober 2012

[4] Acep Hermawan. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. 2011. Bandung: PT  Remaja Rosdakarya. hlm. 179-180

[5] Acep Hermawan. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. 2011. Bandung: PT  Remaja Rosdakarya. hlm. 183

[6] Ahmad Fuaf Effendy. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. 2004. Malang: Misykat.
Hlm.35